Rabu, 16 September 2009

Penyakit Ikan dan Udang di Indonesia

Menurut beberapa publikasi penyakit ikan telah mulai dikenal sejak tahun 1932 dengan masuknya bibit ikan yang diduga berasal dari Amerika atau Eropa dan bersamanya ikut agen penyakit tersebut. Beberapa penyakit Ikan dan Udang yang ada di Indonesia dapat dilihat pada Tabel berikut.

Tabel 1. Gambaran epidemiologi kejadian penyakit pada budidaya perikanan di Indonesia

Tahun kejadian

Propinsi

Agen / Nama Penyakit

Jenias Ikan terserang

Negara asal (Kepustakaan)

1932

Jawa Barat

Ichthyophtiriasis/ I. multifiliis

Mas, Gurame Tambakan,

USA atau Eropa (Djajadiredja, 1983)

1951

Jawa Tengah

Myxoboliasis/

M. pyriformis

Mas

Jepang (?)

1970/71

Jateng,

Sumut

Lerniasis

Lernaea cyprinacea

Mas, Tawes, Gurame

Jepang (1963)

(LPPD Bogor, 1978)

1974

Jabar

Myxoboliasis/

Myxobolus koi

Mas (muda)

Jepang

(Rukyani, 1978)

1978

Jabar

----

Myxosoma sp.

Mas

Jepang

(Djajadiredja, 1982)

1980

Jawa (Jabar)

Bercak merah

A. hydrophila

A. salmonicida

Ps. fluorescens

Mas, Gabus, Lele, Belut, Gurame

Taiwan

(Djajadiredja, 1982)

1983/84

Lampung

Jambi Kalteng

Bercak merah

Mas. Gabus, Lele

Dana, 1986

1986

Jawa

Spinal curvatura syndrome/crook back

Pseudomonas sp.

Corynebacterium sp.

Micrococcus sp.

A. hydrophila

Lele

Dana, 1986

1990

Jawa, Bali Lampung Sulsel

Vibriosis

Vibrio harveyi

Udang windu

Rukyani et al. (1992)

1999

Jawa

Bercak putih

Systemic monodon baculo virus (SEMBV)

Udang windu

2000

Bali, Jawa

Udang putih

2001

2002

Jawa

Koi Herpes Virus

Koi, Ikan Mas

2003

Lampung

Viral Nervous Necrosis

Kerapu

Diskan Lampung

Dari Tabel 1. dapat terlihat bahwa masuknya agen penyakit disebabkan lemahnya sistem karantina ikan pada saat itu, yang masih bersatu dengan karantina hewan. Selain itu SDM yang bekerja juga masih sedikit dan belum menguasai penyakit ikan secara baik.

Penyakit satwa akuatik saat ini sudah merupakan ancaman bagi budidaya, terutama dalam aspek agribisnis perikanan. Beberapa kerugian akibat penyakit antara lain; ekspor ditolak, biaya produksi tinggi, perlu biaya penanggulangan penyakit, kematian induk dan bibit dan turunnya pendapatan petambak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar